December 18, 2011

Toiletway: Akhir perjalanan saya dengan transjakarta



Transjakarta Toiletway: Budaya Baru Diskriminasi, itulah sindiran bagi traja dari para miliser Suara Transjakarta tahun lalu pada bulan Juni 2010, ketika pertama kali diterapkan pemisahan antrian berdasarkan jenis kelamin. Sindiran tersebut merupakan plesetan dari slogan traja yaitu Transjakarta Busway: Budaya Baru Bertransportasi. Selanjutnya, saya akan menggunakan sebutan "toiletway" untuk menyebut sistem pemisahan antrian berdasarkan jenis kelamin ini.


Toiletway diimplementasikan secara dadakan oleh Unit Pengelola Transjakarta Busway (dahulu Badan Layanan Umum Transjakarta Busway, atau biasa disebut BLU) karena banyaknya pemberitaan media tentang kasus pelecehan seksual di traja. BLU panik, dan tanpa perencanaan apapun langsung menerapkan toiletway di semua halte kor 1-8. Pada pelaksanaan toiletway tahun lalu, antrian di halte dipisah dua: wanita antri di pintu depan (atau sisi yang lebih dekat dengan pintu depan), dan pria antri di pintu belakang (atau sisi yang lebih dekat dengan pintu belakang). Gak perlu menunggu lama, pelaksanaan ini langsung mendapat reaksi keras dari para penggunanya. Para wanita protes karena antrian wanita jauh lebih panjang daripada antrian pria, soalnya jumlah penumpang wanita juga lebih banyak. Para pria protes karena dipaksa masuk lewat pintu belakang yang ukurannya sangat sempit (untuk traja dengan pintu berjumlah dua pasang). Para penumpang yang berkelompok berpasangan ataupun keluarga juga protes karena otomatis mereka jadi terpisah. Sistem toiletway ini pun lama kelamaan hilang karena masalah-masalah tersebut, kecuali di beberapa halte seperti Ragunan, dan Dukuh Atas 2 arah Ragunan.

Bulan lalu, November 2011, media kembali memberitakan maraknya kasus pelecehan seksual di traja. Hal ini yang kemudian kembali melatarbelakangi implementasi toiletway jilid 2. Pada toiletway sekarang, tidak hanya antrian di halte, tapi juga posisi di dalam bis dipisah berdasarkan jenis kelamin. Wanita ditempatkan di bagian depan, sedangkan pria ditempatkan di bagian belakang.

Gak cuma itu, pada pelaksanaan toiletway jilid 2 ini UPT lebih maju bodoh selangkah. Karena sebagian besar jumlah penumpang traja adalah wanita, agar UPT gak diprotes wanita seperti waktu toiletway pertama, UPT menerapkan bahwa pintu depan (untuk traja dengan dua pasang pintu) adalah pintu khusus wanita, dengan terjemahan bahasa Inggris: Line for Ladie's o_O Sedangkan pintu belakang bebas dimasuki siapa saja, termasuk wanita. Pemisahan penumpang di dalam traja juga begitu, bagian depan traja adalah area khusus wanita, dengan terjemahan bahasa Inggris: Ladie's Area. Tapi bagian belakang merupakan bagian bebas, wanita juga boleh masuk ke belakang. Tujuannya biar penumpang wanita (yang jumlahnya lebih banyak) gak protes. Masa bodo deh bagi penumpang pria, jumlahnya gak signifikan. Ya, UPT tidak peduli sama sekali dengan para penumpang prianya.

LOLWUT?

Yang membingungkan, kenapa wanita boleh bercampur dengan pria? Maksudnya diadakan pemisahan ini untuk mengurangi pelecehan kan? Ujung-ujungnya kalau wanita yang ada di belakang itu dilecehkan, lagi-lagi yang disalahkan adalah penumpang pria. Dengan sistem toiletway jilid 2 ini, sama saja UPT secara tidak langsung beranggapan bahwa semua penumpang pria adalah pelaku pelecehan seksual. Way to troll your male passengers, UPT!

UPT berkilah pelaksanaan toiletway jilid 2 ini adalah untuk menindaklanjuti hasil survei yang dilakukan kepada penumpang wanita (yup, penumpang pria gak dilakukan survei karena UPT punya tujuan mendiskriminasikan penumpang pria). Disitu tertulis 90% dari penumpang wanita setuju adanya bus khusus wanita. Entah apa mereka gak bisa baca atau mungkin memang bodoh, yang dilakukan malah memisahkan antrian berdasarkan jenis kelamin.

Kopi darat tanpa hasil

Setelah UPT melakukan sistem toiletway jilid 2 ini, miliser STJ langsung membuat kopi darat 'dadakan' pada tanggal 9 Desember 2011 untuk mempertanyakan alasan dilakukan toiletway oleh UPT. Walaupun semua miliser menentang sistem toiletway pada kopdar, UPT tetap berpendirian untuk menerapkan toiletway. Jawaban yang diberikan oleh Bapak Muhamad Akbar, Kepala UPT yaitu: "Kami ingin membiasakan para penumpang untuk tertib, oleh karena itu kami lakukan sosialisasi agar penumpang perempuan bergeser ke depan, dan penumpang laki-laki bergeser ke belakang. Kami berharap dengan sosialisasi ini, nantinya para penumpang akan terbiasa tertib dengan sendirinya untuk bergeser ke bagiannya masing-masing. Kami juga sudah belajar dari pengalaman tahun lalu, contohnya mengenai pintu belakang yang lebih sempit, untuk itu penumpang laki-laki boleh mengantri di pintu depan."

Tertib? Apakah pemisahan ini yang merupakan definisi tertib? Bukannya saya mau membanggakan diri sendiri, tapi saya selalu tertib ketika naik traja. Saya tidak pernah berdiri di tengah kalau ada tempat yang masih kosong di bagian dalam! Bahkan saya sering menyuruh penumpang lain untuk masuk ke dalam yang masih kosong, sampai gak jarang saya dituduh sok mengatur penumpang lain yang sebenarnya itu adalah tugas para satgas onboard! Saya selalu mendahulukan penumpang yang akan keluar dari traja, walaupun saya harus menahan dorongan dari penumpang-penumpang di belakang saya yang gak sabar untuk masuk ke dalam traja! Saya juga gak pernah memaksakan masuk ke dalam traja apabila satgas onboard sudah menyetop aliran penumpang!

Dan yang sangat disayangkan, pada hari Senin tanggal 12 Desember 2011, di semua halte dan juga di semua kabin traja ditempel stiker khusus wanita, yang berarti Pak Akbar jelas-jelas telah membohongi kami semua yang hadir di acara kopdar! Ketika dikonfirmasi Pak David (ketua komunitas STJ) lewat SMS, balasan SMS dari Pak Akbar adalah: "Terima kasih Pak David, kami sedang memonitor pelaksanaan di lapangan. Prinsipnya pintu depan dapat digunakan bersama, hanya akan diupayakan di sisi kanan pintu khusus untuk wanita guna memudahkan ketika masuk ke dalam bus. Mohon pengertian dan kesabarannya mungkin di awal-awal ini belum sempurna." Jawaban yang asal jawab, karena penempelan stiker di semua halte juga tidak standar, contohnya di Kuningan Barat stiker ditempel di daun pintu sebelah kiri, yang sangat bertentangan dengan SMS balasan Pak Akbar tersebut.

Akhir perjalanan

Saya pribadi sangat gak setuju sistem toiletway ini, karena dua alasan. Pertama, saya naik traja selalu ambil posisi berdiri paling depan, karena posisi tersebut biasanya kosong, akibat penumpang lebih suka berkumpul di tengah. Posisi tersebut adalah posisi paling nyaman bagi saya, selama ini saya jarang sekali merasakan berdesak-desakan di traja karena saya selalu mengambil posisi berdiri di belakang pramudi. Selain itu, dengan saya harus masuk lewat pintu belakang yang lebih sempit, maka saya membutuhkan waktu tunggu yang lebih lama untuk mengantri masuk ke dalam bis. Berarti, tujuan saya menggunakan traja agar waktu perjalanan saya lebih cepat tidak tercapai. Tinggal satu alasan saya menggunakan traja, yaitu keamanan, karena traja masih jauh lebih aman dari moda angkutan umum lainnya. Sedangkan alasan nyaman dan cepat sudah otomatis hilang. Walaupun begitu, saya masih 'dengan terpaksa' naik traja karena gak ada angkutan umum lain yang lebih baik dari traja.

Kedua, dengan adanya area/antrian khusus wanita, berarti seluruh penumpang wanita telah diistimewakan, bahkan lebih istimewa dari penumpang prioritas yang seharusnya (penyandang cacat, lansia, dan ibu hamil). Padahal sebagian besar penumpang wanita kelakuannya gak beres, contoh paling sering ditemui yaitu sengaja menahan antrian cuma biar bisa dapat duduk. Kalo gak ada traja kosong yang berhenti, jangan harap mereka mau masuk kedalam... Belum lagi pada suka dorong-dorongan buat rebutan kursi, eh didalam traja malah ngumpul di tengah. Udah dapat duduk, kalau ada penumpang prioritas malah pura-pura tidur biar gak disuruh berdiri, onboardnya juga gak berani sama penumpang model begini.

Semua kursi bagian belakang tetap diisi penuh oleh wanita, padahal wanita sudah diberi area khusus di bagian depan.

Alhamdulillah mungkin saya diberi jalan, pada hari pertama penerapan toiletway tanggal 5 Desember 2011, sewaktu saya mau keluar dari kantor saya diajak salah seorang teman kantor untuk ikut nebeng naik motornya. Sebelumnya sebenarnya saya pernah menolak tawaran dia, karena saya lebih suka naik traja. Tetapi sekarang saya gak pikir panjang menerima tawaran tersebut, dan sampai saat ini saya setiap pulang kantor selalu nebeng motornya. Untuk pagi hari saya berangkat ke kantor masih menggunakan traja, karena sistem toiletway-nya masih bisa saya tembus, selain itu saya juga cuma melakukan transfer satu kali.

Haha, ironis banget ya... Sebagai salah seorang penumpang yang sangat peduli akan traja, saya meninggalkan traja dengan cara 'diusir' seperti ini oleh UPT sendiri. Bahkan saya dengan rela berpindah ke kendaraan pribadi berupa sepeda motor, yang merupakan moda transportasi yang paling saya benci. Dari kelas 1 SD saya selalu menggunakan kendaraan umum, dan akhirnya selesai disini hanya karena toiletway. Sekarang saya merasa sangat menyesal telah membantu UPT, mulai dari memberi informasi tentang teknis operasional, sampai mencoba memberi penjelasan ke semua orang (termasuk keluarga dan teman) tentang masalah-masalah yang dialami traja dan juga sekaligus mempromosikan traja.

Sekedar informasi, kami di Suara Transjakarta sukarela dan sama sekali tidak dibayar oleh UPT. Jangankan dibayar, kami setiap hari juga membayar tiket busway sama seperti penumpang-penumpang lainnya. Malah saya selalu menolak ajakan dari kenalan saya di UPT (satgas dan pengendali) agar saya naik dari pintu penurunan/prioritas, karena status saya hanya penumpang biasa. Kami bersedia membantu UPT hanya karena satu tujuan, yaitu ingin membuat transjakarta menjadi moda angkutan umum yang disukai seluruh warga.

Sebagai penutup, harapan saya, saya ingin banget kembali naik traja dengan nyaman seperti dulu, tanpa toiletway seperti ini. Yah tapi saya juga gak berharap banyak, melihat UPT dibawah kepemimpinan Pak Akbar sudah jauh berbeda... :((

Bonus: Berikut terlampir peta rute transjakarta yang sudah diupdate dengan tambahan kor 11. Peta tersebut bisa diunduh disini, saya juga sudah update link di website Suara Transjakarta. Walaupun telah didiskriminasi oleh UPT, saya tetap akan terus memperbaharui berita di website Suara Transjakarta dan twitter Info Busway, karena saya beda dengan humas UPT yang walaupun dia bekerja di UPT, tetapi jarang update berita di website UP Transjakarta ataupun twitter UP Transjakarta. Saya masih mencintai transjakarta, yang saya benci adalah manajemennya...

6 comments:

  1. Setuju.. Cinta transjakarta, benci setengah mampus management nya...

    ReplyDelete
  2. kalau peta rute yang real scale dulu gk disupport lagi ya, Bo?

    ReplyDelete
  3. sedih bacanya. untung gw jg skrg dah jarang naek (krn gak tiap hr ke kntr lg dan lg nyari gawean baru). gak kaya dulu yg tiap hari naek traja sejak 2006

    ReplyDelete
  4. @Juna: Haha sebenernya gw emang pengen update yang real scale, tapi sayang gak sanggup nyelesaiinnya... Mungkin kalo banyak permintaan bisa gw lanjutin, hehe... :P

    @Marvy, @thomas: Makin parah, hari ini (hari ibu) dimanfaatin UPT buat nempel poster "Saatnya wanita jadi yang utama". Hahaha, ini yang dibilang emansipasi? Haloo, traja ini angkutan UMUM bukan sih?

    ReplyDelete
  5. artikel yang sangat menyentuh . saya juga sebagai pengguna setia TJ bahkan lebih daripada mobil saya sendiri juga prihatin .. semoga di lain kesempatan mereka bisa memperbaikinya . Go GO Transjakarta ..

    ReplyDelete
  6. aku dah buat domain terpaksanaikbusway.com idenya sih buat pengalaman pengguna transjakarta, dan akhirnya membuat kritis pengguna transja.

    ReplyDelete